Breaking News

Senin, 01 Desember 2014

Manusia dan Penderitaan (Bencana Banjir)

BENCANA BANJIR
Banjir adalah peristiwa terbenamnya daratan oleh air. Banjir merupakan fenomena alam yang biasa terjadi di suatu kawasan yang banyak dialiri oleh aliran sungai atau timbul jika air menggenangi daratan yang biasanya kering. Secara sederhana banjir dapat didefinisikan sebagainya hadirnya air di suatu kawasan luas sehingga menutupi permukaan bumi kawasan tersebut. Air banjir biasanya membawa lumpur berbau yang dapat menutup segalanya setelah surut. Kekuatan banjir juga mampu merusak rumah dan menyapu fondasi nya.
Di beberapa negara termasuk Indonesia, setiap tahun pasti dating banjir. Bahkan sudah menjadi budaya di tiap tanggal tertentu. Hal ini sudah menjadi fenomena alam biasa. Namun tetap dikatakan bencana besar, karena meminta korban besar.
Masalah tersebut mulai muncul sejak manusia bermukim dan melaukan berbagai kegiatan di kawaan yang berupa dataran banjir (flood plain) suatu sungai. Dataran banjir juga mengandung potensi merugikan sehubungan dengan terdapatnya ancaman berupa genangan banjir yang dapat  menimbulkan kerusakan dan bencana.
Seiring dengan laju pertumbuhan pembangunan di dataran banjir maka potensi terjadinya kerusakan dan bencana tersebut mengalami peningkatan pula dari waktu ke waktu.

PENYEBAB BANJIR   
Meliputi aspek-aspek berikut :
  • Aspek alam 
Jumlah curah hujan dewasa ini semakin tinggi ketika musim hujan telah tiba. Anomali cuaca yang terjadi sebagai dampak dari perubahan iklim membuat kita tidak siap dalam menghadapi musim hujan. Tentu kita tidak dapat menyalahkan alam yang membuat curah hujan semakin tinggi sehingga mengakibatkan banjir dimana-mana.
Contohnya :
-       Terjadinya erosi tanah hingga hanya menyisakan batuan, dan tidak ada resapan air. bahkan bukan hanya banjir tapi juga tanah longsor.
-       Sungai, dapat berperan sebagai tempat mengalirnya air menuju laut. Ketika musim hujan tiba, sungai akan menampung air hujan dari saluran-saluran drainase kota untuk kemudian di salurkan menuju laut. Akan tetapi, kondisi sungai sekarang sudah jauh dari layak. Di sebagian besar pulau jawa, sungai-sungai yang melintasi kota kondisinya sudah sangat memprihatinkan. kemampuan sungai untuk menerima air yang masuk ke sungai menjadi lebih kecil akibat sedimentasi sungai, kemudian yang terjadi adalah meluapnya sungai ke daerah-daerah permukiman.
  •  Aspek teknis 
Hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan teknis atau infrastruktur baik komersial maupun kebutuhan, namun memiliki permasalahan atau beresiko banjir.
Contohnya :
-       Pembangunan tempat permukiman dimana tanah kosong diubah menjadi jalan gedung, tempat parkir, hingga daya serap air hujan tidak ada. Seperti kota-kota besar semacam jakarta yang sering terjadi bencana banjir.
-       Bendungan dan saluran air rusak. Walaupun tidak sering terjadi namun bisa menyebabkan banjir terutama pada saat musim hujanderas yang panjang.
-       Drainase, permasalahan yang hampir homogen di setiap daerah yang mengalami banjir adalah kondisi drainase yang kurang layak, seperti volume drainase yang sudah tidak mampu lagi menampung air limpasan yang tinggi dan juga tidak terintegrasinya antara saluran drainase yang satu denga yang lainnya. Kondisi drainase di Indonesia saat ini masih banyak mendapat sorotan karena kurang mampunya dainase dalam menampung air limpasan dari hujan sehingga yang sering terjadi adalah meluapnya air yang mengakibatkan banjir.
  • Aspek budaya 
Aspek budaya dalam hal ini adalah budaya masyarakat yang masih jauh dari budaya bangsa yang beradab.
Contohnya :
Masih kuatnya budaya masyarakat untuk membuang sampah ke sungai ataupun saluran air lainnya. Apabila kita lihat di sungai-sungai atupun saluran air lainnya, masih terdapat sampah-sampah yang terdapat di dalamnya. Selain sampah tersebut mengganggu dari segi estetika, sampah dapat menurunkan kemampuan sungai ataupun saluran air untuk mengalirkan air ke laut. Paradigma yang masih mengakar kuat dalam pemikiran masyarakat adalah sungai sebagai tempat sampah karena mereka berpikir sampah adalah sesuatu yang harus segera dibuang atau dihilangkan, dan ketika masyarakat membuang sampah ke sungai maka sampah tersebut akan langsung hilang terseret arus sungai. Hal ini tidak lepas dari kurangnya tanggung jawab masyarakat akan sampah yang mereka hasilkan sendiri.

MENYIKAPI BENCANA DAN PENDERITAAN
Bencana dan penderitaan adalah bagian yang tak mungkin terpisahkan dari kehidupan manusia,sangat mustahil jika ada seorang manusia yang tidak prnah mengalami penderitaan. Penderitaan dan kata derita. Kata derita berasal dari kata bahasa sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat lahir atau bathin, atau lahir bathin. Yang termasuk penderitaan itu ialah keluh kesah, kesengsaraan, kelaparan, kekenyangan, kepanasan, dan lain – lain.
Berikut menyikapi suatu bencana dan penderitaan :
-       Berpikir positif merupakan suatu cara berpikir yang lebih menekankan pada hal-hal yang positif, baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun situasi yang dihadapi. Setiap pikiran positif akan melihat setiap kesulitan dengan cara yang gambling dan polos serta tidak mudah terpengaruh sehingga menjadi putus asa oleh berbagai tantangan ataupun hambatan yang di hadapi. Individu yang berpikir positif selalu di dasarkan fakta bahwa setiap masalah pasti ada pemecahan dan suatu pemecahan yang tepat selalu melalui proses intelektual yang sehat.
-       Kita juga harus selalu yakin bahwa setiap penderitaan yang kita alami datang dari Tuhan Y.M.E. dengan hidup lebih berserah diri dan yakin akan kebesaran tuhan ,segala derita yang kita pikul juga bisa lebih terasa ringan. Dan menyadari bahwa penderitaan adalah kita sendiri yang membuatnya. Kita yang menuai kita yang mendapat hasilnya. Mungkin saja itu peringatan.
-       Bergerak mencari jalan keluar untuk bangkit dari keterpurukan bencana, karena menderita bukan berarti orang tidak dapat berbuat apa-apa. Dan menyadari bahwa penderitaan adalah kita sendiri yang membuatnya. Kita yang menuai kita yang mendapat hasilnya.
-       Jangan saling menyalahkan. Dengan begitu justru kita hanya menilai kehidupan namun tidak menjalani kehidupan.
-       Jangan selalu berpikir bahwa orang yang menderita adalah orang yang tidak dapat berbuat apa-apa. Bangkitlah dengan penderitaan itu, tidak semua orang pernah mendapatkan bencana dan penderitaan yang sama.

SOLUSI MENGHINDARI BENCANA DAN PENDERITAAN
Solusi paling tepat untuk menghindari bencana adalah memulaiya dari kesadaran dalam diri masing-masing individu untuk behenti melakukan tindaan-tindakan yang mampu memacu terjadinya suatu bencana yang pada akhirnya menyebabkan penderitaan. Namun untuk tercapainya hal tersebut, menurut saya setidaknya perlu adanya upaya-upaya agar tercipta kesadaraan masing-masing individu. Upayanya tidak begitu mudah, namun jika dilakukan bersama dan serius maka tujuan itu tercapai meskipun itu perlahan. Untuk menghindarinya meliputi langkah-langkah berikut :
1.       Membersihkan saluran-saluran penyebab banjir dari endapan-endapan untuk menambah daya tampung air.
Hal ini dilakukan oleh kepemerintahan, baik tingkat atas maupun tingkat bawah. Mulai dari persatuan warga, camat, sampai bupati/walikota. Dengan mengayomi masyarakat akan menimbulkan kesadaran individu, bahkan tercipta persatuan.


2.       Melakukan reboisasi.
Selain meningkatkan Sumber Daya Alam (SDA) dan mengurangi pencemaran akibat aktivitas pabrik, reboisasi juga bermanfaat untuk mengurangi resiko banjir.

3.       Komitmen dan kerjasama.
Partisipasi seluruh elemen masyarakat harus dilakukan secara terorganisasi dan terkoordinasi agar dapat terlaksana secara efektif. Sebuah organisasi masyarakat sebaiknya dibentuk untuk mengambil tindakan-tindakan awal dan mengatur peran serta masyarakat dalam penanggulangan banjir.


4.       Perlu adanya pemahaman dari tingkat dewasa sampai anak-anak.
Hal ini bisa dilakukan oleh kepemerintahan atau kesadaran individu. Namun alangkah baiknya disampaikan oleh pemerintah kepada masyarakat lalu dilanjutkan oleh masyarakat kepada individu lainnya.

5.       Jangan bertindak setelah terjadi
Permasalahan banjir tidak hanya menjadi pemikiran dan pekerjaan pemerintah saja, akan tetapi kita sebagai masyarakat juga termasuk dalam stakeholder pencegahan bencana banjir. Kita dapat melakukan pekerjaan kita dengan merubah budaya membuang sampah di sungai dari sekarang. Memang mungkin terlihat sepele, akan tetapi tindakan nyata kita yang telah kita lihat akan mempunyai dampak yang signifikan dalam pencegahan bencana banjir ke depannya. Akan tetapi kita juga berharap, pemerintah mampu melakukan pekerjaan dalam aspek teknis menjadi lebih baik sehingga apa yang kita lakukan dan apa yang pemerintah lakukan terjadi sinkronisasi untuk tujuan pencegahan bencana banjir.

SIKAP MENGENAI BENCANA DAN PENDERITAAN
Pada hakekatnya penderitaan dan manusia itu berdampingan. Karena penderitaan merupakan rangkaian dari kehidupan. Setiap orang pasti pernah mengalami bencana dan penderitaan. Penderitaan itu dapat teratasi tergantung bagaimana seseorang menyikapinya. Banyak hikmah dan pelajaran yang dapat diambil dari penderitaan. Menurut saya, segala bentuk derita nya harus kita tanggapi dengan sikap positif, namun sebelum derita itu tercipta sebaiknya kita siapkan diri terlebih dahulu untuk menjaga alam sekitar, memahami bagaimana untuk mengerti arti pentingnya alam dan bertindak sesuai aturannya.
Bisa jadi selama ini kita secara tidak sadar telah banyak melakukan sesuatu yang berakibat bencana, secara sengaja atau tidak sengaja dan secara sembunyi atau terang-terangan. Inilah yang perlu menjadi bahan renungan bagi kita semua.


Q.S. Ar-Rum ayat 41-42 



Artinya : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (Q.S. Ar Rum (30) : 41-42)


Q.S. Al-A’raf ayat 56-58 


Artinya : “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan. Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerh yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya subur dengan izin Tuhan; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya yang tumbuh merana. Demikianlah kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (Q.S. Al-A’raf (7) : 56-58)


Q.S. Sad ayat 27



Artinya : ”Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka”. (Q.S. Sad (38):27)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Published.. Blogger Templates