Breaking News

Rabu, 14 Oktober 2015

(Contoh Kasus) Individu, Keluarga, dan Masyarakat


Sekolah menjadi bagian dari struktur sosial karena sekolah merupakan lembaga pendidikan yang pada kenyataan empirisnya terdapat banyak fungsi yang ditimbulkan dari lembaga tersebut. Pada sejarahnya sekolah banyak melahirkan insan yang mengangkat harkat dan martabat bangsanya. Sekolah menjadi lembaga yang masih dipertahahkan sampai saat ini karena lembaga tersebut masih banyak menghasilkan fungsi bagi setiap individu.

Namun pada kenyataan empiris terdapat sisi disfungsi dari lembaga tersebut. Pada akhir-akhir ini terdapat suatu fenomena sosial yang menghebohkan dari lembaga pendidikan. Media massa mengangkat peristiwa tawuran yang dilakukan oleh siswa dari SMA 6 dan SMA 70 dan akibat dari tawuran tersebut terdapat korban jiwa yang tentu saja menjadi permasalahan sosial. Tawuran itu sendiri memang tidak hanya terjadi saat ini melainkan sudah berlangsung lama dan bisa dikatakan menjadi ritual dari siswa karna terjadi secara kontinuitas.

SUMBER KONFLIK
Pada dasarnya tawuran pelajar itu terjadi karena beberapa factor; pertama, timbulnya solidaritas dari siswa dengan kuat apabila siswa melakukan tawuran , kedua, sekolah dianggap hebat ketika memenangkan peperangan antar sekolah dan mempecundangi sekolah yang kalah, ketiga, ruang ekspresi yang terbatas dari lingkup sekolah, keluarga, maupun lingkungan. Setidaknya dari factor dasar tersebut dapat pula memicu terjadinya tawuran antar sekolah.

PROSES KONFLIK
Terlihat menjadi pemicu kuat dari terjadinya tawuran antar pelajar, dan pada nyatanya terdapat pula aktor dibaliknya, diantaranya para alumni dan senior dari sekolah tersebut yang ingin melanggengkan tradisi ini. Para alumni dan senior dari sekolah tersebut seolah tidak mau menghilangkan tradisi tersebut. Proses regenerasi yang menyesatkan ini yang seharusnya dihilangkan dengan tindak tegas yang seharusnya memberikan pemahaman kepada siswa untuk menhiraukan ajakan senior yang menyesatkan.
Seharusnya menjadi koreksi pihak sekolah dan keluarga siswa, walaupun sudah terdapat kerjasama diantara keduanya yang berlangsung di sekolah-sekolah namun nyatanya fungsi itu kurang berkontribusi bagi siswa. Pengawasan sekolah tingkat atas seharusnya lebih kuat dari perguruan tinggi. Pasalnya banyak siswa yang kurang mendapatkan perhatian untuk siswa yang kurang berprestasi sehingga siswa tersebut merasa terpinggirkan (alienasi). Inilah yang seharusnya menjadi perhatian untuk tidak ada unsure diskriminasi bagi siswa.

SOLUSI

Perlunya pendidikan moral dari sekolah dengan menanamkan nilai-nilai agama dan perhatian pendidikan yang baik. Memberikan perhatian lebih pada siswa (berprestasi maupun tidak) menjadi tanggung jawab keluarga, baik keluarga di rumah maupun di sekolah. Perhatian tersebut dapat diwujudkan dalam berbagai macam, ketika di lingkungan keluarga orang tua dapat memberikan hal-hal yang disukai untuk mengalihkan peristiwa tidak diinginkan tersebut. Di lingkungan sekolah dapat pula memberikan rewerd dari segala potensi individu tiap siswa, seperti ekskul dll. Namun, tak lupa untuk senantiasa memperkuat jaringan antara sekolah dan keluarga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Published.. Blogger Templates